5 Tips Hindari Budaya Flexing
5 Tips Hindari Budaya Flexing -
Banyak sekali pada waktu belakangan ini fenomena budaya flexing di sosial media. Tidak
dapat dipungkiri banyak sekali kita temui kasus demikian, setiap kali kita
melakukan scrolling konten apapun terutama di platform sosial media manapun
terutama saat ini platform Instagram maupun WhatsApp banyak sekali orang yang
melakukan apa yang namanya itu flexing alias memberitahukan kepada khalayak
ramai tentang apa yang telah diraihnya baik itu dalam hal karir, romansa, gaya
hidup maupun aspek hidup lainnya yang dilakukan dalam kurun waktu tertentu dan
sifatnya berlebihan.
Mengapa hal demikian dilakukan oleh orang-orang belakangan
ini? Ya tujuannya tidak lain tidak bukan untuk mendapatkan pujian, sanjungan.
Hal demikian tidak dapat kita elakkan bahkan mungkin kita
secara tidak sadar melakukan apa yang namanya itu "flexing” di
sosial media entah itu skalanya masih kecil maupun besar dengan tujuan mencari
validasi dan eksistensi dari lingkungan sekitar kita agar orang lain iri atas
pencapaian yang telah diraihnya.
Namun sebagian besar dari kita mungkin masih belum bisa
membedakan secara tepat tentang perbedaan flexing dengan personal branding saat
ini. Untuk personal branding sendiri didefinisikan sebagai usaha untuk
membangun rasa kepercayaan dan hubungan dengan pihak lain dalam jangka waktu
panjang, sedangkan flexing sendiri hanya menciptakan pusat perhatian secara
temporary tanpa adanya substansi secara mendalam.
Apabila ditelaah secara lebih mendalam dampak dari fenomena
flexing efeknya cukup mengganggu bagi kesehatan mental terutama untuk pihak
lain yang bersangkutan dan diri sendiri.
Maka dari itu, alangkah baiknya kita menghindari supaya
tidak terjebak dalam dalam fenomena flexing yang sedang bergerak masiv di dunia
maya ini. Terdapat beberapa langkah agar terhindar dari fenomena flexing ini
yang biasanya dilakukan oleh orang kaya baru (OKB).
Untuk langkah-langkahnya mari kita simak pada penjelasan
dibawah ini secara seksama supaya sahabat tidak mudah minder dan insecure
terhadap apa yang telah dimilikinya dengan begitu kita akan menjadi lebih
bersyukur dalam menjalani hari-hari kedepannya.
1. Tanamkan dalam pikiran untuk selalu berpikir kritis
Langkah awal yang bisa kita lakukan adalah membiasakan diri
untuk mencari fakta dan data dari setiap informasi yang muncul di hadapan kita.
Berikanlah, ketika kita menerima suatu pertanyaan tertentu jangan langsung
memberikan respon ataupun mencerna begitu saja tanpa mengetahui apa yang telah
terjadi sebenarnya serta bagaimana efek terhadap diri kita sendiri maupun ke
orang lain.
Ketika kita sudah memulai untuk mencoba berpikir secara
kritis, maka setidaknya apapun keputusan yang akan kita ambil setelahnya sudah
didasarkan pada logika dan bukan dari rasa emosi semata.
Pada sejatinya mencerna serta menelan informasi apapun itu
yang masuk akan membantu diri kita untuk dapat lebih memahami apa yang
sebenarnya dibutuhkan serta tidak dibutuhkan oleh diri sendiri.
Hal demikian perlu dilakukan selalu karena tidak semua
informasi di dunia maya itu sifatnya baik benar dan bisa memberikan manfaat
yang begitu nyata untuk diri sendiri. Jadi hingga saat ini, mulailah untuk
belajar menyerap segala informasi yang ada.
2. Mengerjakan Apa yang Telah Kalian Ketahui
Semakin berkembangnya dunia digital terutama teknologi yang
semakin memudahkan kita untuk dapat mengetahui segala hal di penjuru bumi ini.
Dan mulai dari hal yang dibutuhkan sampai yang mungkin tidak dibutuhkan
sekalipun dapat dengan mudah untuk didapatkan saat ini.
Walaupun demikian, kita mengusahakan untuk tidak secara
mudah mempercayai segala hal dan langsung mempraktekannya begitu saja tanpa
mencari tahu terlebih dahulu seluruh informasi yang kita temui saat itu.
Sebagai saja contohnya yaitu ketika kita tergiur dengan berbagai macam jenis
instrumen investasi yang ditawarkan karena memang melihat banyak sekali
keuntungan/profit yang akan didapatkan nantinya.
Akan tetapi, sebelum kita memutuskan untuk melakukan
investasi tersebut. Kita dapat mencoba untuk mencari tahu secara lebih mendalam
dan lebih mendetail lagi, seperti jenis investasi apa yang memang benar benar
kita butuhkan di masa depan, macam produknya apa saja, resiko yang akan
diterima bagaimana, keuntungan yang didapatkan apa saja, jangkauan waktu yang
dibutuhkan totalnya berapa lama dan lain sebagainya.
Karena bisa saja kekayaan serta materi yang kita lihat pada
diri mereka yang menawarkan berbagai macam instrumen investasi tersebut tidak
akan terjadi dengan secara instan, dan pastinya akan ada proses panjang di
dalamnya yang tidak kita lihat.
Karena itu, usahakan untuk lebih bijak dalam menjalani
segala hal yang sudah kamu ketahui dan terbiasa lakukan. Sehingga, alhasil
jangan sampai hanya karena tergiur serta mengikuti tren terkini dan latah tanpa
benar-benar mengetahui secara keseluruhan informasi sebenarnya, sehingga dapat
merugikan diri sendiri jatuhnya.
3. Memfilter Media Sosial secara Efektif
Tidak dapat dipungkiri apabila setiap informasi yang berada
di dunia maya tidak akan dapat kita kendalikan sepenuhnya. Maka oleh itu, kita
sendirilah yang dapat mengendalikan informasi yang berada di dunia internet
seperti yang berada pada sosial media.
Sebaiknya pandai-pandailah dalam memilih setiap akun
ataupun channel yang memang bisa memberikan manfaat serta benar-benar kita
butuhkan supaya terhindar dari budaya flexing alias pamer kekayaan yang
mungkin nantinya akan semakin membuat kita menjadi overthinking.
Apabila memang sudah terlanjur terjebak di dalamnya,
sebaiknya kita menghindari segera mungkin. Dan sebisa mungkin kita tidak
terjebak sampai dikendalikan oleh sosial media, karena pada hakikatnya kita
yang harus mengendalikan diri sendiri pada saat bermain sosial media. Dengan
cara ini, kita dapat merasakan berbagai manfaat, baik untuk diri sendiri maupun
untuk orang-orang di sekitar kita.
4. Berfokus Pada Tujuan
Belajar serta menata ulang kembali titik fokus kita adalah
hal yang bisa dilakukan siapapun. Maka dari itu hindari serta hilangkan semua
distraksi yang ada terkait dengan hal yang bersifat materi maupun pada
orang-orang yang selalu flexing kekayaan.
Oleh karena itu, fokuslah pada tujuan pribadi dan nikmati
setiap proses yang dijalani, karena pada akhirnya usaha dan kerja keras kita
sendiri yang akan membuahkan hasil yang memuaskan suatu saat nanti.
Materi serta semua kekayaan merupakan hasil akhir yang akan
kita dapatkan setelah kita melalui berbagai macam proses di dalamnya serta
tentunya hal tersebut bukanlah merupakan tujuan yang sebenarnya.
Fokus terhadap tujuan, cita, mimpi dan beberapa aspek hidup
lain yang memang harus kita kejar dan wujudkan serta dapat membuat kita terus
untuk selalu belajar dan bertumbuh menjadi individu yang berkualitas setiap
harinya.
5. Berhenti Mencari Validasi Orang Lain
Untuk cara yang terakhir yaitu berhenti mencari validasi
dari pihak lain. Bukan tugas kita untuk selalu memenuhi semua ekspektasi
ataupun keinginan orang lain serta membuat mereka hati mereka senang. Mungkin
kita tanpa sadar apabila selama ini terlalu sibuk untuk memenuhi segala
ekspektasi orang lain serta mencari validasi dari berbagai macam hal yang telah
dilakukan.
Padahal adanya validasi, ekspektasi, serta justifikasi dari
pihak lain tidak sepenuhnya dapat menggambarkan siapa dirimu sebenarnya dan apa
yang akan kita capai pada waktu berikutnya.
Apabila kita masih selalu memenuhi segala ekspektasi serta meminta validasi dari orang lain, maka menjadikan kita hanya merasa lelah tanpa mendapatkan hasil apapun, karena pada dasarnya validasi itu hanya berada di dalam diri kita sendiri.

0 Response to "5 Tips Hindari Budaya Flexing"
Post a Comment